AHLAN WA SAHLAN

Puisi adalah jiwa. Luapan perasaan. Dalam puisi ada cinta, nostalgia, ideologi, dan rasa syukur.


Tulislah apa yang ada di pikiranmu. Luapkan dalam coretan-coretan indahmu. Dan sepuluh tahun lagi mungkin kau akan tertawa atau bahkan mungkin coretan itu akan menjadi sebuah memori yang mahal. menjadi sebuah cerita tersendiri yang bisa dikenang. Yups, selagi kita masih bisa menulis, kenapa kita tidak meluapkannya dalam coretan-coretan? Meskipun coretan itu hanya bisa kita nikmati sendiri (hehe... menghibur diri ni?)

Pernah frustasi gara-gara karyamu gak pernah diterima? Nasiiib... nasiiib. Kalo iya, berarti kamu senasib dong ma aku. Asiiik ada temen senasib nih! Ceritanya aku lagi frustasi nih lianna (kan biasanya pake coz, sekarang ganti lianna ja biar lebih..... apa ya? lebih bernuansa kearaban gitu deh! Biar ga English mulu!) puisiku ga diterima di majalah yang pernah kukirim, akhirnya bikin blog sendiri ja deeeh. Yaah, nikmati sendirilah.

Senin, 18 April 2011

Ibu VS Ayah


Tulisan ini kuberi judul Ibu VS Ayah. Bukan maksudku membanding-bandingkan untuk saling memusuhi Lho... tapi untuk saling melengkapi. Ehem, langsung mulai ke pokok permasalahan.

Suatu hari ada seorang Ayah bersama seorang anak laki-lakinya. Anak tersebut tampak baru berusia sekitar lima tahun. Si Ayah berjalan mengiringi si anak memasuki sebuah rumah makan kecil yang biasa disebut dengan Depot La Tansa atau biasa disingkat DLP. Semua berlangsung damai dan aman tanpa masalah, hingga si anak melihat sebuah box es krim.

“Ayah, aku mau es krim. ", ujar sang anak mendekati box es krim.

Si Ayah mengiyakan tanpa banyak koment.

Tapi, ah, sayang sekali. Sungguh malang nasib si anak. Box es krim itu kosong. Tak terdapat satu bungkus pun es krim di dalamnya.

“Es krimnya sudah habis, Pak. », terang seorang kasir DLP kepada sang ayah.

Si anak pun menangis karena apa yang diingini tak terkabulkan.

“Es krimnya sudah habis. Nanti ayah belikan di tempat lain ya ? », bujuk sang ayah. Namun, bujukan itu sama sekali tak berpengaruh bagi si anak.

« Gak mau-gak mau... !!! », rengek sang anak tak mau diam. « Mau es krim... », tangis si anak semakin keras. Sang ayah masih terus mencoba membujuk si anak agar tenang. Tapi, lagi-lagi bujukan itu sia-sia. Bahkan si anak semakin keras menangis, ia duduk selonjoran di atas lantai sambil menghentak-hentakkan kakinya.

Tampaknya kesabaran sang ayah telah habis. Si ayah pergi keluar DLP meninggalkan sang anak menangis dan merengek sendirian. Entah kemana si ayah pergi. Beberapa detik kemudian, muncullah seorang wanita memasuki DLP dan mendekati si anak tersebut.

"U... Sayang... ? ", Wanita tersebut mendekati si anak. "Yuk, sini sama Umi, Sayang", bujuk wanita tersebut yang ternyata adalah ibunya sambil merangkul si anak. Kini sang anak aman berada dalam gendongan wanita tersebut.

Rupanya si bapak tadi keluar DLP memanggil ibunya... heheee. Mungkin kesabaran si ayah telah habis.

"Eh, tu ada Yakult... ", Sang ibu mulai mengalihkan perhatian sang anak. Ia menunjuk ke sebuah lemari pendingin yang tampak dari luar penuh berisi Yakult. "Waah... enak ni ! beli Yakult yuuk... ", Si ibu membuka lemari pendingin dan memungut satu botol Yakult.

Dan sang anak pun terdiam di gendongan ibunya. Si ibu berhasil dengan mudah menenangkan anaknya. Atau... si anak sudah capek nangis kali ya.

Conclutionnya :

Emang ya, Ibu itu... beda sama ayah. Ibu itu... lebih berperasaan, lebih lembut, lebih sabar, lebih pengertian, Lebih mudah dekat dengan si anak dari pada sang ayah. Beda banget sama si ayah. Si ayah gak sabaran. Dengan kelebihan luar biasa yang dimiliki si ibu, so Pasti dong si anak akan lebih merasa dekat dan nyaman berada di samping ibu.

Sekolah

“Sepuluh tahun lagi, ya anak saya sudah kuliah”, kata-kata itu masih menggema di benakku. Hingga jam istirahat pun aku masih belum bisa menghiraukan ucapan itu. Sebuah ucapan sepeleh dari guru Bahasa Indonesiaku, namun tidak sepeleh bagiku. Karena setelah mendengar ucapan itu, muncul sebuah pertanyaan di batinku, “Bisa gak ya aku kuliah? Aku kan tidak punya banyak uang. Orang tuaku juga tidak sekaya guru Bahasa Indonesiaku. Orang tuaku hanya seorang petani. Tepatnya buruh petani.”. Tapi aku kan juga ingin merasakan bagaimana rasanya belajar di bangku kuliah. Lalu menjadi ilmuan seperti Albert Einsten, Al-Khowarizmi, Thomas Alfa Edison, dan ilmuan-ilmuan lainnya yang pernah kubaca cerita dan biografinya. “Ah, hayalan tingkat tinggi. Sekarang saja aku baru duduk di kelas tiga SMP.”, aku menepis mimpiku.

Dan tiba-tiba perutku keroncongan. Aku baru sadar kalau tadi pagi aku belum sarapan karena aku terburu-terburu. Yups, kalau lapar seperti ini kebiasaanku yang sudah dihafal oleh teman-temanku adalah pulang ke rumah, makan. Kalau jam istirahat aku tidak ada di sekolah, berarti aku sedang asik makan di rumah. Rumahku yang berada tak jauh dari sekolah membuatku sengaja mengundur waktu sarapanku hingga jam istirahat. Hanya butuh waktu berjalan lima menit dari sekolah untuk sampai ke rumah.

Sekolahku terletak di sebuah pelosok desa. Sekolah kecil dengan jumlah murid yang sedikit. Tak ada kelas paralel karena jumlah murid tiap kelas hanya berkisar tiga puluhan. Sekolahku juga tidak berpagar, jadi kami bebas keluar masuk atau pulang ke rumah ketika jam istirahat. Hanya ada peraturan “siswa di larang meninggalkan sekolah jika jam pelajaran belum selesai, meskipun ketika jam istirahat.” Dan, peraturan itu selalu setia untuk kulanggar hampir tiap hari.

Aku melangkah melintasi beranda sekolah. Kulihat beberapa temanku tengah asik bermain voli.

"Da, pulang ta ?", panggil seorang temanku, Sugiarti yang sejak tadi duduk di beranda kelas melihat permainan voli anak-anak putra.

"Yuk, ikut gak ?", tawarku.

Aku sempat terkejut juga melihatnya beranjak mendekatiku. Aku pun menghentikan langkah. Biasanya jarang ada yang berminat untuk kuajak pulang ke rumahku. Tumben Sugiarti mau.

Tidak perlu naik sepeda, atau naik motor untuk sampai ke rumahku. Cukup jalan kaki sekitar lima menit, aku sudah sampai di depan rumah.

“Assalamu’alaikum”, salamku membuka pintu rumah yang tidak terkunci. Dan sudah kuketahui, tak ada seorang pun di rumah. Rumahku memang tidak pernah dikunci jika siang hari, meskipun tak ada seorang pun di rumah. Mungkin kami terlalu yakin tidak akan ada pencuri yang sudi masuk ke rumah kami. Kalaupun ada pencuri yang masuk, dapat kupastikan sang pencuri akan kebingungan hendak mencuri apa.

Di rumah ini hanya ada ibu, bapak, aku, dan kakakku satu-satunya. Ibuku sudah berangkat ke sawah sejak pagi tadi. Dan Bapak sudah tiga hari melaut. Ibuku seorang petani, dan ayahku seorang nelayan. Wah, club banget ya. Kakakku kalau jam segini biasanya masih keliling dengan sepeda onthelnya menjajakan es potong. Kakakku sudah duduk di bangku SMA. Dan sekolahnya juga sore. Jadi pagi hari dia berjualan es yang diambil dari Pak Ruslan, pemasok es potong yang tinggal di desa sebelah. Setelah dhuhur baru dia berangkat sekolah.

Aku ngeloyor ke dapur dan mengambil dua buah piring. Aku duduk mendekati meja makan. Kubuka tudung yang menutupi makanan di atas meja. Hmmm… enzim-enzim di mulutku keluar. Aku menelan air liurku. Ibuku membuatkanku sambal jeruk kesukaanku. Dua buah cabe tanpa tomat dicampur petis, lalu diulek. Ketika cabe sudah hancur dan menyatu dengan petis, lalu jeruk nipis dipotong tanpa dikupas kulitnya dan diulek juga bersama cabe dan petis tadi. Hmm…. Segarnya…

"Yuk, makan ! ", tawarku kepada Sugiarti.

Aku menikmati sarapanku bersama Sugiarti. Bukan sarapan berupa susu maupun roti seperti yang biasa dimakan anak-anak kota. Sarapanku sangat sederhana. Nasi, sambal jeruk, dan tahu goreng buatan ibuku. Meskipun sederhana tapi aku sangat menikmatinya. Kulihat Sugiarti juga tampak menikmati sambal buatan ibuku.

Selesai makan, kami segera mencuci piring yang kami pakai. Telah menjadi kebiasaan di rumahku bagi siapa yang makan harus mencuci piringnya sendiri. Setelah sarapan selesai, kami pun kembali ke sekolah dengan perut kenyang.

“Waa… sambal buatan ibumu mantap!”, puji Sugiarti.

Kurasa Sugiarti juga belum sarapan. Biasanya ia jarang mau jika kuajak makan di rumahku. Alasannya sih sudah sarapan di rumah.

@@@@

Sudah tiga hari ini aku tidak melihat raut muka Sugiarti di kelas. Entah kenapa dia tidak masuk kelas. Tidak ada kabar maupun surat ijin darinya. Kutanya kepada teman-teman yang lain juga tidak tahu. Rumahnya memang terletak jauh di seberang desa. Butuh waktu hampir setengah jam perjalanan naik sepeda dari rumahnya menuju sekolah. Itu pun harus melalui sawah-sawah. Kondisi jalanannya pun tidak semulus jalan aspal. Apalagi jika musim hujan turun, dapat dipastikan jalanan licin, becek dan banyak lubang yang tergenang air.

“Jangan-jangan dia sakit perut setelah kuajak makan pakai sambal di rumahku?”, tanyaku dalam hati. “Tapi… sambal buatan ibuku kemaren gak pedas-pedas banget kok.”. Meskipun aku suka pedas, tapi ibuku tidak pernah mengijinkanku makan sambal dengan cabe lebih dari dua buah.

Dan siang ini, sepulang sekolah aku berniat ke rumah Sugiarti. Yups, tadi malam aku sudah mengutarakan niatku ini kepada ibuku. Dan ibuku mengangguk.

Aku duduk di depan rumah menanti kedatangan kakakku tercinta. Menanti sepedanya tepatnya. Dan tak lama, kakakku muncul dari seberang jalan. Tanpa ba bi bu, aku langsung mendekati sepeda dan memegang setir sepeda.

“Jadi?”, tanya kakakku.

“Jadi dong”, jawabku semangat.

" Sendiri ? berani gak ?"

"Berani ... !"

"Hati-hati", pesan kakakku.

“Oke Bos! Siap!”, Aku menghormat.

Kukayuh sepeda onthel milik kakak. Meskipun usia sepeda ini sudah lama, tapi terawat dan kelihatan kinclong. Ya, sepeda kesayangan kakakku nih. Dan kakak tidak pernah lupa untuk mengelapnya tiap pagi sebelum keliling berjualan es. Dia juga tak pernah mengijinkan lumpur menempel lama di roda sepedanya. Ya, sepeda ini menjadi saksi perjalanan kakakku tersayang.

Aku melewati hamparan sawah hijau yang berada di sebelah selatan desaku. Kukayuh sepedaku melewati jalan kecil berlumpur. Kulihat beberapa petani tengah asik membungkuk di tengah sawah sambil menanam padi. Dapat kupastikan rasa capek yang berat, atau punggung yang pegal karena membungkuk seharian. Eh, tapi… kok aku tidak pernah mendengar ibuku mengeluh kecapean ya. Hmmm… ibuku yang tegar. Ibuku yang tak pernah mengeluh. Ibuku yang selalu memberikan suport dan motivasi buat anak-anaknya. Meskipun kadang bawel juga sih. But, I love you mom.

Hampir setengah jam aku mengayuh sepeda. Akhirnya aku memasuki sebuah pedesaan. Singkul, begitu orang-orang menyebut desa ini. Dilihat dari kondisi rumah-rumah penduduknya, desa ini tampak lebih terbelakang dibanding desaku. Tak kulihat gapura desa ketika aku memasuki desa ini. Tahun lalu bahkan sempat terjadi tanah longsor yang menimpa beberapa rumah penduduk desa ini yang terletak tepat di pinggiran aliran bengawan Solo.

Waduh, rumah Sugiarti yang mana ya? Siapa lagi nama bapaknya? Kalau orang yang kutanya tidak kenal dengan Sugiarti kan kali aja kenal sama bapaknya. O iya, aku baru ingat kalau bapaknya sudah meninggal ketika dia masih SD.

Kulihat seorang ibu-ibu muda (menurutku lebih pas jika dipanggil mbak) sedang duduk di depan rumah menggendong seorang anak kecil sekitar usia satu tahunan. Aku mengerem sepeda, dan bertanya kepadanya.

“Lurus aja dek, nanti ada rumah warna coklat menghadap ke selatan. Ada amben di depan rumahnya.”, jelasnya.

Aku mengikuti arahannya. Kembali kukayuh sepedaku pelan sambil kepalaku terus menatap ke kiri, mencari-cari rumah warna coklat dengan amben di depan rumah. Ya, aku melihatnya.

Aku berhenti tepat di depan rumah tersebut. Kujagang sepedaku di halaman sempit rumah tersebut. Kudekati pintu rumah, lalu kuucap salam.

“Wa’alaikum salam.”, yups, tak salah lagi. Itu adalah suara Sugiarti. Sang pemilik suara muncul dari dalam.

"Lho, Da ?", Sugiarti tampak heran melihatku sampai di depan pintu rumahnya. Aku hanya tersenyum. "Kok tahu rumahku ? Sama siapa ?"

"Sendiri.", jawabku.

Sugiarti mempersilahkanku masuk da duduk. Ada dua buah kursi kayu kecil dan satu kursi kayu panjang plus meja kayu tanpa taplak meja. Semua tampak tua. Aku duduk di kursi panjang bersama Sugiarti.

Dalam hati, aku salut kepada Sugiarti. Tiap hari, pagi dan siang dia mengayuh sepeda bolak-balik dari rumahnya ke sekolah. Semua untuk satu kata, « SEKOLAH ». Ah, harusnya aku bersyukur karena rumahku berdekatan dengan sekolahku. Tak perlu jauh-jauh mengayuh sepeda.

"Kamu kenapa tiga hari gak masuk sekolah ?", tanyaku kepadanya.

"Ibuku sakit, Luk. Ya, aku harus jaga adikku.", aku terkejut melihat jawaban Sugiarti. "Tapi sekarang sudah baikan. Besok kalau gak ada halangan kayaknya aku bisa masuk kelas.", lanjutnya.

Aku meminta Sugiarti untuk menemaniku menemui ibunya di dalam. Aku duduk di samping tempat tidur ibunya.

Ternyata rumah Sugiarti jauh lebih kecil dan jauh lebih sederhana dari rumahku. Rumahnya hanya bersekat satu yang memisahkan ruang tamu dan ruang dalam. Di ruang tamu ada seperangkat kursi kayu tua dan satu meja. Sedangkan di ruang dalam hanya ada satu ranjang besi tua, satu lemari kayu yang juga tampak tua, dan peralatan dapur sederhana. Tak kulihat kamar mandi. Entah dimana kamar mandinya. Mungkin di luar.

Kulihat ibunya sedang tertidur. Sugiarti berniat membangunkan ibunya, tapi aku segera melarangnya dengan isyarat gelengan kepala. Kami pun kembali duduk di ruang tamu dan kembali bercengkrama.

“Ibumu sakit apa, Sug?”, tanyaku.

“Panas dingin.”

“Gak diperiksakan ke Puskesmas ta?”

“Ibuku gak mau diperiksa ke Puskesmas. Cuma minum obat beli di toko.”

Aku tidak menanyakan sebabnya. Karena aku bisa menebak. Pasti karena finansial yang kurang.

"Adikmu mana ?", tanyaku.

" Ke tetangga sebelah paling, main sama teman-temannya"

"Emang adikmu umur berapa sih Sug ?"

"Empat tahun."

O, pantas saja Sugiarti tidak masuk kelas. Dia harus menjaga ibunya yang sakit, juga mengurus adiknya. Pastinya juga Sugiarti yang memasak makanan untuk ibu dan adiknya. Kembali aku salut kepadnya, Sugiarti benar-benar hebat.

“O iya Sug, tadi ada pengumuman dari Pak Sabar, seminggu lagi try out.”, kataku.

Sugiarti hanya berekspresi datar.

“Gak tau Da, nanti aku bisa ikutan apa enggak.”, ujarnya.

Aku tampak terkejut mendengar ucapannya. "Haruslah Sug. ", balasku.

Sugiarti menarik napas. Ia menatapku dengan senyuman aneh.

@@@

Seminggu berlalu, dan hari ini try out Ujian Nasional akan dilaksanakan. Tapi tak kulihat kemunculan Sugiarti di sekolah. Apakah kondisi ibunya masih parah? Atau jangan-jangan dia lupa kalau hari ini ada try out? Aku duduk di depan kelas menatap ke arah jalan, mengharap kedatangan Sugiarti mengayuh sepedanya.

Namun harapanku pupus. Yang terekam di telingaku malah justru kabar bahwa Sugiarti sudah izin keluar sekolah karena ia akan menikah. Dan aku hanya terbengong mendengar berita itu.

Di satu sisi aku menyesalkan dia, karena sebentar lagi ujian. Mengapa dia tidak menunggu sampai selesai ujian ? "Ah, mungkin itu jalan yang terbaik buat dia. Tau apa aku.", ujarku kemudian dalam hati.

Kamis, 24 Maret 2011

Psikologi Terbalik

“Psikologi Terbalik”. Pernahkah kamu mendengar istilah itu? Kalau kamu baru akhir-akhir ini mendengar istilah itu, berarti kamu gak jauh beda sama aku. Hehee… sama-sama kurowi. Bagi kamu yang udah lama denger or tahu istilah itu, kamu boleh mengataiku “kurowi”, coz aku emang baru denger istilah itu.

Sebenarnya sudah lama sih aku denger istilah “Psikologi Terbalik”, sekitar sebulan yang lalu. Tapi ketika itu aku lom tahu apa maksudnya. Tepatnya aku pertama kali denger istilah Psikologi Terbalik dari wall status FB seseorang yang menyebut dirinya Kadabra Abra. Nama palsu pastinya. Sok misterius gitu orangnya. Suka berubah identitas. Dah kayak bunglon ae. Ets, jangan-jangan… sebangsa bunglon? Apa sodaranya bunglon kali ya? Hehee… pisss becandaa…

Lets go back to Psikologi Terbalik. Awal aku baca istilah itu… aku coment dalam hati “Ada-ada aja nih orang. Emang ada ya psikologi terbalik?”. Coz, sebelumnya aku memang lom pernah denger istilah itu. Yang kutahu cuman psikologi perkembangan, psikologi pendidikan, psikologi belajar, Psikologi Sosial, Psikologi… apa lagi ya? Oya, Psikologi umum. Pokoknya yang semacam itulah.

And for the second time (hehee… nggaya pake bahasa Inggris. Padahal nilai bahasa Inggris di raportku kebakaran semua) aku kembali denger istilah Psikologi Terbalik di media massa dan di lain waktu. Dalam bahasa Inggris, Psikologi Terbalik disebut dengan Reverse Psychology. Untuk lebih jelasnya kamu bisa cari bukunya, trus beli ntu buku, baca, habis ntu pinjemin ke aku ya? Kikkikkiiii… canda-canda…. Atau kamu cari aja di internet.

Entah kenapa terdetik di otakku rasa ingin tahu. Manusiawi donk. So, aku nanya ke Mbah Gugel (ets, gak usah komplain…! Aku bacanya gugel kok. Hehee).

Kalau pemahamanku gak salah, gini nih contohnya. (kalau salah harap dibetulkan).

Ehem, contohnya kamu lagi jalan-jalan sama aku. Eh, gak deng. Gak jalan-jalan. Capek kalo jalan-jalan. Contohnya gini nih: Ceritanya aku sama kamu lagi antri beli tiket kereta api. Eh, tiket pesawat juga gak apa-apa deng, biar lebih keren. Nah, gak ada angin, gak ada hujan, and gak ada petir alias gak ada sebab apapun, tiba-tiba aku mukulin kamu pake kayu sampek kamu babak belur. So pasti sakit dong. Tapi kamu gak membalasku. Kamu cuman ngeluh kesakitan. Trus, tiba-tiba penjaga loket marah-marah ke kamu, “Gitu aja ngeluh! Cengeng! Ganggu nih! Berisik tau! Diem gak kamu! Kalo gak diem aku laporin polisi biar kamu ditangkap. Berisik nih!”

Yups, gitu contohnya. Inti permasalahan sebenarnya adalah aku yang bersalah coz udah gebukin kamu sampai babak belur tanpa sebab. Harusnya aku yang dipermasalahkan dan disalahkan. Bukannya keluhan kamu yang dibesar-besarkan dan disalahkan. Gitu…

Aku kasih contoh lagi nih. Kan Israel jajah Penduduk Palestina. Gak tanggung-tanggung bro. Pake tank-tank, bom, rudal, ang the geng. Ribuan penduduk Palestina tewas. Bangunan-bangunan hancur. Tanah mereka dikuasai oleh Israel. Sebagai penduduk yang dijajah, so pasti gak mau dong tinggal diam. Pastinya harus membela tanah air air dong. Kamu sendiri kalau dijajah juga pasti bakalan ngelawan kan? Kecuali kalau kamu gak berani melawan. Nah, penduduk Palestina melawan dan mempertahankan tanah airnya dengan melempar seorang tentara Israel pake batu sekali lempar. Pas banget kena kepala tentara tersebut hingga koid. (Eh, maaf, kasar banget kata-kataku. Hingga meninggal maksudku.)

Wuiiihhh… ternyata media massa heboh Bro… gini niih beritanya “Seorang penduduk Palestina telah melempar batu kepada seorang tentara Israel tepat mengenai kepalanya hingga tentara tersebut tewas. Hal ini tidak bisa dibiarkan. Penduduk palestina harus mendapat hukuman dan harus diseret ke pengadilan PBB.” Maklum, kan ceritanya kan media massa lagi dikuasai Israel.

Hmmm… itulah gambaran tentang Psikologi Terbalik. Inti permasalahannya ditutup-tutupi, disamar-samarkan, dialing-alingi (bahasa Jawanya). Hampir mirip juga ya dengan memutar balikkan fakta.

Harusnya yang mendapat hukuman dan diseret ke penjara adalah sang penjajah, bukan yang dijajah. Harusnya yang dipermasalahkan adalah penjajahannya, bukan perlawanan atas penjajahan tersebut.

Emmm… contoh lain lagi nih. Kamu masih inget kan berita perzinaan, eh, salah. Penyebaran video porno Ariel dan Luna. Zina ya jelas SALAH dong. Haram. Haram dan dosa. Dosa bagi si cewek yang berbuat. Yang cowok juga. Sama aja. Hmmm kan ada jalan yang jelas, sudah diatur aturannya, aman, syar’i, mulia bin terhormat, yaitu dengan jalan nikah.

Entah kenapa proses hukum kasus tersebut luamaaa and bertele-tele. So, masyarakat ya protes agar proses hukumnya dipercepat.

Eh, sebelum aku terusin, aku mau nanya dulu ke kamu. Kira-kira… apa komentar kamu menanggapi hal itu?

Berkaitan dengan Psikologi Terbalik, aku mengutip komentar seseorang yang kudengar lewat televisi. Komentar Ahmad Dhani. Eh, jangan salah. Ini bukan Dhani tetanggaku lho ya. Kamu tau dong Ahmad Dhani. Kalo kamu gak tahu gak apa-apa. Aku gak maksa kamu untuk tahu. Gini nih komentarnya; “Menurut saya, Ariel dan Luna itu TIDAK SALAH. Dan juga mereka jangan terlalu dikoyo-koyo. Jangan masyarakat memaksakan kehendaknya kepada pihak-pihak yang berwajib supaya Ariel dan Luna ditangkap, karena sebenarnya masyarakat yang memaksakan kehendaknya itu juga tidak benar.”

Yups, itu yang namanya Psikologi Terbalik atau Reverse Psychology. Mengaburkan pokok permasalahan awal, dan berbalik menimpakan kesalahan kepada pihak lain.

Minggu, 13 Maret 2011

Selalu Ada Hikmah

Pasti ini terasa begitu menyakitkan
Saat kau kehilangan sesuatu yang kau sayang
Bilakah tak tahu mungkin itu yang terbaik
Ada rahasia terindah yang diinginkanNya

Ku hanya ingin agar engkau bisa pahami
Memaknai yang terjadi dengan tulus hati
Meski kuakui tak mudah untuk terima
Segala yang tlah menjadi ketetapanNya

Leraikanlah gundah Tabahkanlah hati
Dan yakinilah semua itu rencana dariNya

Sudahlah lupakan segala yang membuatmu merana
Hanya kan membuat dirimu dihantui gelisah
Biarkanlah semua kan berlalu dengan apa adanya
Karena dibalik yang terjadi pasti ada hikmahnya untuk kita

{وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ} [البقرة: 216]}.


Sabtu, 12 Maret 2011

Duhai Pendampingku


by edCoustic

Di hatimu tersimpan cinta yang suci
Terbangun dalam pernikahan dari beda dunia
Meski kau terbiasa hidup tanpa perih
Namun kau ikhlas hidup bersahaja
Namun bahagia


Duhai pendampingku, akhlakmu permata bagiku
Buat aku makin cinta
Tetapkan selalu janji awal kita bersatu
Bahagia sampai ke surga

Maafkan aku jika tak bisa sempurna
Karena ku bukan lelaki yang turun dari surga
Ketulusan hatimu anugerah hidupku
Doakan langkah kita tak berpisah
Untuk selamanya

Kamis, 03 Maret 2011

التوسط والاعتدال

inspirated by my lovely teacher yang keren banget


عيشي مع نفسك بين التعب والراحة

عيشي مع بناتك وتلميذاتك بين الشدة واللين أو الرحمة

عيشي مع مدرسك بين الاحترام والمزح

عيشي مع ربك بين الخوف والرجاء

Minggu, 27 Februari 2011

Satu Keluarga

Dalam sebuah gubuk dia tinggal. Ah, mungkin tempat itu lebih cocok jika disebut sebagai kandang dari pada sebuah gubuk. Bedanya tempat itu terlihat bersih, meski hanya berdinding rajutan bambu dengan tambalan kardus dan karung disana-sini. Sepetak tanah sempit yang dihuni oleh satu keluarga kecil. Tak terdapat ranjang, kursi, maupun lemari layaknya rumah pada umumnya. Hanya ada gelaran tikar plastik, kardus yang berfungsi sebagai lemari pakaian dan rak buku, juga meja yang sama sekali tidak mirip dengan meja. Peralatan makan pun sangat sederhana. Mungkin orang-orang bilang jauh dari sederhana alias kurang.

Dan aku duduk di tempat itu. Terdiam. Sesekali aku menatap ke atas, melihat atap asbes yang tampak usang, terlihat celah disana-sini. Dapat kupastikan air hujan dapat dengan ceria memasuki rumah tersebut lewat banyak celah. Di tempat itu ia tinggal bersama istri dan kedua anaknya. Jauh dari hedonitas dunia yang selama ini diincar oleh banyak orang. Ia tak pernah menonton televisi dan tak pernah mengijinkan istri maupun anak-anaknya menonton, karena ia tahu bagaimana gencar serangan televisi dan internet menyerang.

Duduk aku bercengkrama bersamanya, istrinya juga anak-anaknya. Subhanallah, tak kudengar sedikit pun keluhan dari ucapan mereka tentang keadaan mereka. Yang ada hanya keceriaan dan rasa syukur.

“Tu kan... Ahsan gak salam... “, ujar anak perempuan yang berumur sekitar 12 tahun mengomentari adiknya yang masuk rumah tanpa mengucapkan salam.

“Mesti deh Ahsan…”, Ucap sang Ayah.

Dan aku hanya tersenyum mendengar ucapan mereka. Begitu juga Ahsan yang tampak cengar-cengir memasuki rumah.

“Duduk sini Dek!”, perintahku kepada Ahsan, anak kecil yang baru berumur berkisar 9 tahunan. Ia pun duduk di sampingku. Belum lima detik ia duduk di sampingku, tangannya meraih makanan yang ada di hadapannya.

“Bismillah dulu…”, ujar sang ibu kepadanya ketika ia hendak memakan kue yang diambilnya.

“Bismillahirrohmanirrohim”, ucap Ahsan sebelum memasukkan potongan kue di mulutnya.

Yups, tiap langkah dan gerakan penuh dengan do’a.

Seharian aku bersama mereka. Ngobrol dan makan bersama. Hmmm… soto ayam. Sang ibu mengambilkan nasi dan sayur untuk sang ayah dan Ahsan kecil. Barulah setelah itu ia mengambil nasi untuk dirinya sendiri. Hmmm romantisnya…

Aku makan dengan lahap.

“Dihabiskan, sunnah Rosul. Jangan ada sisa.”, ujar sang Ayah.

Aku tahu, pasti biasanya mereka hanya makan seadanya. Mungkin hanya dengan nasi dan sambal atau kerupuk. Karena hari ini aku kesini, maka sang ibu sengaja memasak soto ayam. Hmmm… segitunya….

Jujur, dalam hati aku salut padamu.

Kamis, 10 Februari 2011

Hidup

Hidup bukanlah garis abadi yang takkan pernah mati
Hidup bukanlah kekekalan yang takkan pernah habis
Hidup bukanlah ruang yang tak bertepi

Hidup hanyalah setitik garis
Hidup hanyalah sedetik fase
Hidup hanyalah secercah ruang

Dan semua tak ada yang abadi....

Teman Adalah....


Teman adalah...
Yang setia mendampingi kita kala kita terjatuh
Teman adalah...
Yang selalu berusaha hadirkan keceriaan kala kita dirundung duka
Teman adalah...
Yang berusaha tenangkan kita kala kita berada dalam ketakutan
Teman adalah ...
Yang memahami dan menerima kita apa adanya
Teman adalah....
Yang selalu mensuport kita untuk menjadi lebih baik
Teman adalah...
Yang menyayangi kita dengan tulus ikhlas

Gerimis Pagi

Gerimis mengguyur di pagi biru
Daun-daun berdansa
Iringi irama bayu
Rintik hujan mengalun merdu
mencipta melodi syahdu
Alamku...