AHLAN WA SAHLAN

Puisi adalah jiwa. Luapan perasaan. Dalam puisi ada cinta, nostalgia, ideologi, dan rasa syukur.


Tulislah apa yang ada di pikiranmu. Luapkan dalam coretan-coretan indahmu. Dan sepuluh tahun lagi mungkin kau akan tertawa atau bahkan mungkin coretan itu akan menjadi sebuah memori yang mahal. menjadi sebuah cerita tersendiri yang bisa dikenang. Yups, selagi kita masih bisa menulis, kenapa kita tidak meluapkannya dalam coretan-coretan? Meskipun coretan itu hanya bisa kita nikmati sendiri (hehe... menghibur diri ni?)

Pernah frustasi gara-gara karyamu gak pernah diterima? Nasiiib... nasiiib. Kalo iya, berarti kamu senasib dong ma aku. Asiiik ada temen senasib nih! Ceritanya aku lagi frustasi nih lianna (kan biasanya pake coz, sekarang ganti lianna ja biar lebih..... apa ya? lebih bernuansa kearaban gitu deh! Biar ga English mulu!) puisiku ga diterima di majalah yang pernah kukirim, akhirnya bikin blog sendiri ja deeeh. Yaah, nikmati sendirilah.

Sabtu, 09 Januari 2016

Salim Kancil........

ILC kembali menayangkan diskusi tentang peristiwa pembunuhan Salim Kancil. Dan aku tak bosan untuk kembali menyaksikannya. Kudengarkan cerita tentang pengeroyokan terhadap Salim Kancil dan topan. Kubayangkan cangkul digunakan untuk mencangkul kepala Salim, disetrum. Sadis, Tak berperikemanusiaan. Hilang kemana hati nurani mereka? Tergerus oleh pasir mungkin.
            Kisah Salim Kancil benar-benar menjadi suatu bukti nyata tidak bergunanya suatu pemerintahan. Kemana dirimu Pak Camat dan aparatnya? Kemana dirimu Pak Bupati, Pak Wakil Bupati? Kemana dirimu Pak Kapolsek, kapolres dan kapolda? Kemana dirimu anggota DPRD?  Apakah selama ini kau tak tahu disana ada penambangan liar yang merusak sawah-sawah warga, merusak SDA kita? Ah, tidak mungkin kau tidak tahu, penambangan itu sudah bertahun-tahun, bukan cuma beberapa hari. Setiap hari ada 300 truk berkeliaran di jalan raya mengangkut pasir, mustahil kau tak melihatnya. Kecuali jika selama bertahun-tahun ini kerjaanmu hanya bersemedi di dalam rumah saja. Mengapa kau diam seakan tak peduli? Apakah para penambang itu memberimu uang hingga kau hanya bisa diam menatap saja? Mengapa kau tidak melakukan tindakan tegas? Haruskah kau menunggu nyawa melayang baru kau bertindak? Untuk apa ada pemerintah jika keluhan warga diabaikan? Apakah kau telah lupa sumpahmu dulu? Atau jangan-jangan kau menjadi pejabat negara karna uang, bukan atas dasar pengabdian kepada masyarakat? Jangan-jangan kau bertindak ini pun karna kau takut rahasia keterlibatanmu terbongkar?
            Hari ini aku menyaksikan suatu potret kehidupan, Pasir jauh lebih berharga daripada nyawa. Dahsyat sekali pengaruh sang Kepala Desa hingga balai desa menjadi tempat pembunuhan secara terang-terangan. Mungkin sang Kepala Desa punya uang milyaran atau trilyunan hingga ia dengan mudah membayar siapapun untuk melenyapkan nyawa manusia, dan tak satupun berani melawan. Semua hanya menatap, membisu, dan terdiam. Kalaupun terpaksa bicara, mereka akan bilang ”saya tidak tahu”.
            Mari kita ikuti dan lihat ending cerita ini. Berapa lama polisi berhasil mengusut dan menghukum orang-orang dibalik pembunuhan dan penambangan liar ini. Satu tahun, dua tahun, lima tahun, atau….. sepuluh tahun? Siapa saja yang dihukum. Beranikah polisi mengusut dan menghukum aparat pemerintahan yang ikut menerima gratifikasi dari penambangan liar ini? Prediksiku sih gak akan. Paling Cuma kepala desa dan segelintir tim 12nya saja yang dihukum.
            Sampai kapan aparat hukum dan pemerintahan Indonesia terus begini?! Jika aparat hukum dan pemerintah terus begini, dapat dipastikan suatu saat nanti akan ada korban-korban lagi yang menyusul Salmi kancil.    
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar