“Psikologi Terbalik”. Pernahkah kamu mendengar istilah itu? Kalau kamu baru akhir-akhir ini mendengar istilah itu, berarti kamu gak jauh beda sama aku. Hehee… sama-sama kurowi. Bagi kamu yang udah lama denger or tahu istilah itu, kamu boleh mengataiku “kurowi”, coz aku emang baru denger istilah itu.

Sebenarnya sudah lama sih aku denger istilah “Psikologi Terbalik”, sekitar sebulan yang lalu. Tapi ketika itu aku lom tahu apa maksudnya. Tepatnya aku pertama kali denger istilah Psikologi Terbalik dari wall status FB seseorang yang menyebut dirinya Kadabra Abra. Nama palsu pastinya. Sok misterius gitu orangnya. Suka berubah identitas. Dah kayak bunglon ae. Ets, jangan-jangan… sebangsa bunglon? Apa sodaranya bunglon kali ya? Hehee… pisss becandaa…

Lets go back to Psikologi Terbalik. Awal aku baca istilah itu… aku coment dalam hati “Ada-ada aja nih orang. Emang ada ya psikologi terbalik?”. Coz, sebelumnya aku memang lom pernah denger istilah itu. Yang kutahu cuman psikologi perkembangan, psikologi pendidikan, psikologi belajar, Psikologi Sosial, Psikologi… apa lagi ya? Oya, Psikologi umum. Pokoknya yang semacam itulah.

And for the second time (hehee… nggaya pake bahasa Inggris. Padahal nilai bahasa Inggris di raportku kebakaran semua) aku kembali denger istilah Psikologi Terbalik di media massa dan di lain waktu. Dalam bahasa Inggris, Psikologi Terbalik disebut dengan Reverse Psychology. Untuk lebih jelasnya kamu bisa cari bukunya, trus beli ntu buku, baca, habis ntu pinjemin ke aku ya? Kikkikkiiii… canda-canda…. Atau kamu cari aja di internet.

Entah kenapa terdetik di otakku rasa ingin tahu. Manusiawi donk. So, aku nanya ke Mbah Gugel (ets, gak usah komplain…! Aku bacanya gugel kok. Hehee).

Kalau pemahamanku gak salah, gini nih contohnya. (kalau salah harap dibetulkan).

Ehem, contohnya kamu lagi jalan-jalan sama aku. Eh, gak deng. Gak jalan-jalan. Capek kalo jalan-jalan. Contohnya gini nih: Ceritanya aku sama kamu lagi antri beli tiket kereta api. Eh, tiket pesawat juga gak apa-apa deng, biar lebih keren. Nah, gak ada angin, gak ada hujan, and gak ada petir alias gak ada sebab apapun, tiba-tiba aku mukulin kamu pake kayu sampek kamu babak belur. So pasti sakit dong. Tapi kamu gak membalasku. Kamu cuman ngeluh kesakitan. Trus, tiba-tiba penjaga loket marah-marah ke kamu, “Gitu aja ngeluh! Cengeng! Ganggu nih! Berisik tau! Diem gak kamu! Kalo gak diem aku laporin polisi biar kamu ditangkap. Berisik nih!”

Yups, gitu contohnya. Inti permasalahan sebenarnya adalah aku yang bersalah coz udah gebukin kamu sampai babak belur tanpa sebab. Harusnya aku yang dipermasalahkan dan disalahkan. Bukannya keluhan kamu yang dibesar-besarkan dan disalahkan. Gitu…

Aku kasih contoh lagi nih. Kan Israel jajah Penduduk Palestina. Gak tanggung-tanggung bro. Pake tank-tank, bom, rudal, ang the geng. Ribuan penduduk Palestina tewas. Bangunan-bangunan hancur. Tanah mereka dikuasai oleh Israel. Sebagai penduduk yang dijajah, so pasti gak mau dong tinggal diam. Pastinya harus membela tanah air air dong. Kamu sendiri kalau dijajah juga pasti bakalan ngelawan kan? Kecuali kalau kamu gak berani melawan. Nah, penduduk Palestina melawan dan mempertahankan tanah airnya dengan melempar seorang tentara Israel pake batu sekali lempar. Pas banget kena kepala tentara tersebut hingga koid. (Eh, maaf, kasar banget kata-kataku. Hingga meninggal maksudku.)

Wuiiihhh… ternyata media massa heboh Bro… gini niih beritanya “Seorang penduduk Palestina telah melempar batu kepada seorang tentara Israel tepat mengenai kepalanya hingga tentara tersebut tewas. Hal ini tidak bisa dibiarkan. Penduduk palestina harus mendapat hukuman dan harus diseret ke pengadilan PBB.” Maklum, kan ceritanya kan media massa lagi dikuasai Israel.

Hmmm… itulah gambaran tentang Psikologi Terbalik. Inti permasalahannya ditutup-tutupi, disamar-samarkan, dialing-alingi (bahasa Jawanya). Hampir mirip juga ya dengan memutar balikkan fakta.

Harusnya yang mendapat hukuman dan diseret ke penjara adalah sang penjajah, bukan yang dijajah. Harusnya yang dipermasalahkan adalah penjajahannya, bukan perlawanan atas penjajahan tersebut.

Emmm… contoh lain lagi nih. Kamu masih inget kan berita perzinaan, eh, salah. Penyebaran video porno Ariel dan Luna. Zina ya jelas SALAH dong. Haram. Haram dan dosa. Dosa bagi si cewek yang berbuat. Yang cowok juga. Sama aja. Hmmm kan ada jalan yang jelas, sudah diatur aturannya, aman, syar’i, mulia bin terhormat, yaitu dengan jalan nikah.

Entah kenapa proses hukum kasus tersebut luamaaa and bertele-tele. So, masyarakat ya protes agar proses hukumnya dipercepat.

Eh, sebelum aku terusin, aku mau nanya dulu ke kamu. Kira-kira… apa komentar kamu menanggapi hal itu?

Berkaitan dengan Psikologi Terbalik, aku mengutip komentar seseorang yang kudengar lewat televisi. Komentar Ahmad Dhani. Eh, jangan salah. Ini bukan Dhani tetanggaku lho ya. Kamu tau dong Ahmad Dhani. Kalo kamu gak tahu gak apa-apa. Aku gak maksa kamu untuk tahu. Gini nih komentarnya; “Menurut saya, Ariel dan Luna itu TIDAK SALAH. Dan juga mereka jangan terlalu dikoyo-koyo. Jangan masyarakat memaksakan kehendaknya kepada pihak-pihak yang berwajib supaya Ariel dan Luna ditangkap, karena sebenarnya masyarakat yang memaksakan kehendaknya itu juga tidak benar.”

Yups, itu yang namanya Psikologi Terbalik atau Reverse Psychology. Mengaburkan pokok permasalahan awal, dan berbalik menimpakan kesalahan kepada pihak lain.