AHLAN WA SAHLAN

Puisi adalah jiwa. Luapan perasaan. Dalam puisi ada cinta, nostalgia, ideologi, dan rasa syukur.


Tulislah apa yang ada di pikiranmu. Luapkan dalam coretan-coretan indahmu. Dan sepuluh tahun lagi mungkin kau akan tertawa atau bahkan mungkin coretan itu akan menjadi sebuah memori yang mahal. menjadi sebuah cerita tersendiri yang bisa dikenang. Yups, selagi kita masih bisa menulis, kenapa kita tidak meluapkannya dalam coretan-coretan? Meskipun coretan itu hanya bisa kita nikmati sendiri (hehe... menghibur diri ni?)

Pernah frustasi gara-gara karyamu gak pernah diterima? Nasiiib... nasiiib. Kalo iya, berarti kamu senasib dong ma aku. Asiiik ada temen senasib nih! Ceritanya aku lagi frustasi nih lianna (kan biasanya pake coz, sekarang ganti lianna ja biar lebih..... apa ya? lebih bernuansa kearaban gitu deh! Biar ga English mulu!) puisiku ga diterima di majalah yang pernah kukirim, akhirnya bikin blog sendiri ja deeeh. Yaah, nikmati sendirilah.

Kamis, 08 Juli 2010

Semut


Tadi pagi seseorang menaruh segelas teh di atas mejaku. Satu jam aku meninggalkan meja tersebut. Dan ketika aku kembali, aku melihat rombongan semut-semut hitam meminum teh tersebut. Bahkan ada beberapa dari mereka yang tenggelam di dasar gelas.

Mungkin ketika engkau melihat pemandangan tersebut, kau akan mengatakan "Ih, kotor banget, jijik." Atau semacamnya. Atau mungkin juga kau akan bilang "Yaa... sayang banget diminum semut..." Atau mungkin juga ada yang bilang "Tak apalah, rizki buat semut * - * ."

Sekarang, mari kita coba melihatnya dari sudut pandang yang lain.

1. dari mana semut tahu kalau di atas meja ada segelas teh manis, sedangkan mereka berada di dalam tanah yang jaraknya jauh beberapa meter dari meja, atau ratusan kali panjang tubuh mereka? bagaimana mereka bisa tahu? Subhanallah, inilah satu bukti keagungan Allah yang diberikan kepada semut. Pastinya itu bukanlah suatu kebetulan.

2. Mengapa meskipun banyak semut-semut yang tenggelam, namun tampaknya itu tak menggoyahkan semut-semut yang lain untuk terus berjuang meminum teh.

3. Sempat aku melihat dengan mata kepalaku sendiri suatu kerjasama antara dua ekor semut yang begitu luar biasa. Tampak seekor semut memasuki gelas dan meminum teh, lalu berjalan ke luar gelas. Di luar gelas tampak semut lain. Semut yang tadi meminum teh mentransfer teh kepada semut kedua yang berada di luar gelas (tampak dari perubahan kondisi dan besar perut dua semut tersebut). Kemudian semut pertama kembali memasuki gelas. Sedangkan semut yang berada di luar gelas membawa teh yang ia terima. Entah dibawa kemana. Mungkin ke sarangnya. Yups, sebuah pertanyaan muncul. Dari mana semut tersebut mempunyai pikiran sejauh itu? Subhanallah!

Namun ada satu hal yang kusayangkan. Aku terlambat untuk mengetahui berapa lama tepatnya semut pertama mengetahui keberadaan teh manis di atas gelas.

Yups, keberadaan seekor semut mampu menyadarkan kita akan keagungan Allah jika saja kita mau memikirkannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar