AHLAN WA SAHLAN

Puisi adalah jiwa. Luapan perasaan. Dalam puisi ada cinta, nostalgia, ideologi, dan rasa syukur.


Tulislah apa yang ada di pikiranmu. Luapkan dalam coretan-coretan indahmu. Dan sepuluh tahun lagi mungkin kau akan tertawa atau bahkan mungkin coretan itu akan menjadi sebuah memori yang mahal. menjadi sebuah cerita tersendiri yang bisa dikenang. Yups, selagi kita masih bisa menulis, kenapa kita tidak meluapkannya dalam coretan-coretan? Meskipun coretan itu hanya bisa kita nikmati sendiri (hehe... menghibur diri ni?)

Pernah frustasi gara-gara karyamu gak pernah diterima? Nasiiib... nasiiib. Kalo iya, berarti kamu senasib dong ma aku. Asiiik ada temen senasib nih! Ceritanya aku lagi frustasi nih lianna (kan biasanya pake coz, sekarang ganti lianna ja biar lebih..... apa ya? lebih bernuansa kearaban gitu deh! Biar ga English mulu!) puisiku ga diterima di majalah yang pernah kukirim, akhirnya bikin blog sendiri ja deeeh. Yaah, nikmati sendirilah.

Rabu, 12 Agustus 2009

Bintang, Mentari, dan Awan

Masih kulihat cerah bintang di dingin pagi ini.
Maaf, semalam ku tak melihat indahmu.
Dan bulan pun serasa enggan pergi.
Ets, bulan tak boleh bandel.
Bulan boleh bertemu lagi malam nanti.
Sampai bertemu nanti malam bulan.
Semoga masih ada nafas dan detak jantung tersisa.
Kini saat bagi mentari tebarkan senyum.
Alhamdulillah, tanaman bisa berfotosintesis lagi.
Jemuran-jemuran itu juga harus kering.
Biarkan mentari sorotkan jurus magnetnya.
Hingga semua air tertarik padanya.
Merajutkan diri menjadi bunga-bunga putih di awan.
Siap menjadi kristal-kristal indah penyegar alam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar