AHLAN WA SAHLAN

Puisi adalah jiwa. Luapan perasaan. Dalam puisi ada cinta, nostalgia, ideologi, dan rasa syukur.


Tulislah apa yang ada di pikiranmu. Luapkan dalam coretan-coretan indahmu. Dan sepuluh tahun lagi mungkin kau akan tertawa atau bahkan mungkin coretan itu akan menjadi sebuah memori yang mahal. menjadi sebuah cerita tersendiri yang bisa dikenang. Yups, selagi kita masih bisa menulis, kenapa kita tidak meluapkannya dalam coretan-coretan? Meskipun coretan itu hanya bisa kita nikmati sendiri (hehe... menghibur diri ni?)

Pernah frustasi gara-gara karyamu gak pernah diterima? Nasiiib... nasiiib. Kalo iya, berarti kamu senasib dong ma aku. Asiiik ada temen senasib nih! Ceritanya aku lagi frustasi nih lianna (kan biasanya pake coz, sekarang ganti lianna ja biar lebih..... apa ya? lebih bernuansa kearaban gitu deh! Biar ga English mulu!) puisiku ga diterima di majalah yang pernah kukirim, akhirnya bikin blog sendiri ja deeeh. Yaah, nikmati sendirilah.

Jumat, 16 Oktober 2009

Setitik...... apa ya?

Tadi siang, tepatnya ketika makan siang, aku sempat menonton TV sebentar. Makan sambil nonton TV. Acaranya Missing Lyrik. Tebak lagu gitu. Ada juga acara yang hampir mirip dengan itu. Entah apa namanya. Aku tak mengingatnya. Tebak lagu juga. Kalau tidak salah sih... di Indosiar.

Sejenak terlintas di hayalan. Coba kalau yang dilombakan itu adalah tebak ayat Qur'an atau melanjutkan ayat Qur'an. Teruss..... biar pada bisa jawab..... berarti ayat-ayat Qur'an harus sering-sring dibunyikan di televisi dan diperdengarkan kepada para pendengar, sama seperti lagu-lagu yang selama ini diputar di televisi. Kalau lirik lagu-lagu sebanyak itu saja bisa dihafal...... mengapa Al-Qur'an tidak? Pasti bisa. Hmmm..... semua kembali kepada niat dan usaha.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar