AHLAN WA SAHLAN

Puisi adalah jiwa. Luapan perasaan. Dalam puisi ada cinta, nostalgia, ideologi, dan rasa syukur.


Tulislah apa yang ada di pikiranmu. Luapkan dalam coretan-coretan indahmu. Dan sepuluh tahun lagi mungkin kau akan tertawa atau bahkan mungkin coretan itu akan menjadi sebuah memori yang mahal. menjadi sebuah cerita tersendiri yang bisa dikenang. Yups, selagi kita masih bisa menulis, kenapa kita tidak meluapkannya dalam coretan-coretan? Meskipun coretan itu hanya bisa kita nikmati sendiri (hehe... menghibur diri ni?)

Pernah frustasi gara-gara karyamu gak pernah diterima? Nasiiib... nasiiib. Kalo iya, berarti kamu senasib dong ma aku. Asiiik ada temen senasib nih! Ceritanya aku lagi frustasi nih lianna (kan biasanya pake coz, sekarang ganti lianna ja biar lebih..... apa ya? lebih bernuansa kearaban gitu deh! Biar ga English mulu!) puisiku ga diterima di majalah yang pernah kukirim, akhirnya bikin blog sendiri ja deeeh. Yaah, nikmati sendirilah.

Rabu, 30 Desember 2009

HAKIM


Kemaren ku sempat baca Mading sekolah. Disitu terpasang puisi-puisi karya anak-anak kelas 6. Ku tertarik dengan puisi Karya Tuti Alawiyah, salah satu siswi MI Nurussalam kelas 6. Judul puisinya "Hakim". Kalo ga salah gini nih sebagian isinya:



Bapak Hakim
Engkau tidak adil
Mengapa engkau membedakan yang kaya dengan yang miskin?
Ketika orang miskin mencuri semangka
Engkau langsung menghukumnya
Tapi ketika orang kaya yang mencuri
Engkau tidak menghukumnya.

Setingkat anak kelas 6 SD sudah mengerti hal semacam itu. Ia juga tahu berita tentang seorang warga yang dihukum karena mencuri, yang beberapa hari lalu diberitakan di media massa. Ia juga tahu tentang korupsi yang terjadi di Indonesia.

Dulu.... seingatku, ketika aku masih duduk di bangku SD, aku sama sekali belum mengerti dan sama sekali tidak mengetahui masalah-masalah politik yang terjadi di negeriku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar